LAMPUNG SELATAN ( siarlamsel.com ) – Persoalan sampah masih menjadi problem bukan hanya di Indonesia, bahkan di belahan dunia.
Berbagai sumber menyebut, sampah merupakan salah satu sumber ancaman tersendatnya program pembangunan berkelanjutan.
Berbicara mengenai penanganan sampah, langkah yang tengah digeluti oleh Pemerintahan Desa (Pemdes) Way Muli Timur, Kecamatan Rajabasa, Lampung Selatan, belakangan ini patut mendapat apresiasi.
Pasalnya, melalui pengembangan bank sampah wening : budidaya larva dari lalat tempayak (magot), dan program daur ulang limbah plastik (Ecobrick), Pemdes setempat mencoba mengedukasi warganya untuk berperan, meminimalisir sampah dilingkungan sekitar.

Salah seorang pengelola Bank Sampah Pemdes Way Muli Timur Mit (32) mewakili Kepala Desa Jarsiman menilai, magot diklaime sangat efektif mengurai sampah organik.
Berdasarkan hasil survei, magot mampu memproses limbah organik relatif lebih cepat jika dibanding mengkompos.
Disamping hal itu, beberapa kelebihan Magot diantaranya Mit menyebut, magot berasal dari lalat black soldier fly (bsf) masuk kedalam spesies lalat buah.
Siklus hidupnya kurang lebih 45 hari. Bermetamorfosa dari telur menjadi baby magot, prepuva, puva, lalu menjadi lalat bertelur, kemudian mati.
Lalat jenis ini, Mit mengklaime tidak membawa dampak lingkungan atau penyakit dan tidak berbau.
” Dengan kapasitas 1 kg, dalam satu hari magot bisa mengurai sampah organik hingga 5 kg. Dibanding mengkompos menjadikan pupuk organik, membutuhkan waktu hingga berbulan bulan,” ungkapnya kepada siarlamsel.com, Senin, (16/7/2024).
Mengenai daur ulang limbah plastik, pihaknya mencoba memilah terlebih dahulu limbah plastik yang bernilai, kemudian dikumpulkan lalu dijual ke penampung.
” Sampah plastik yang tidak bernilai, kami usahakan untuk dijadikan kerajinan bernilai. Seperti Gapura Stand Desa, meja dan kursi ini misalnya (Ecobrick),” katanya.
Dia mengatakan, persoalan lingkungan yang kompleks ditengah masyarakat diantaranya adalah sampah.
” Melalui kegiatan ini, kita mencoba mengedukasi masyarakat untuk memilah sampah,” imbuh Mit.
” Dan berharap, lingkungan kita terjaga dan bersih dari sampah. Sehingga tidak ada lagi warga yang membuang sampah sembarangan atau ke kebun dan ke laut,” harapnya.
Pengembangan bank sampah wening Desa Way Muli Timur baru berfokus kepada budidaya Magot.
Lokasi budidaya masih sebatas di RT II Dusun I. dengan luas lahan budidaya yang tersedia 10×10 meter.
Dibagian lain, Tim penilai Stand Desa di Rajabasa Fair 2024 dari Disperkim Lamsel M. Kholil mengapresasi ide kreatif jajaran Pemdes Way Muli Timur.
Dia menerangkan, kategori penilaian stand terbaik meliputi diantaranya, logo, siger Lampung Sai Batin, penataan, ramainya pengunjung, dan produk unggulan desa.
” Menurut pendapat saya, mengangkat tema daur ulang sampah sangat menarik. Sebab, idenya sangat kreatif dan inovatif,” pungkasnya. (Sfy)
Eksplorasi konten lain dari Media Siar Lampung Selatan
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Berita Lainnya
Paluma Gelar Sosialisasi Early Warning System Berbasis Komunitas, Bencana Tsunami Selat Sunda
Paluma Nusantara Gelar Workshof Sistem Komunikasi Peringatan Dini Bencana Tsunami Selat Sunda
PWI Lamsel Solid Sambut Kepengurusan Baru