LAMPUNG SELATAN ( siarlamsel.com ) – Kecamatan Candipuro, merupakan sebuah kecamatan yang berada di Kabupaten Lampung Selatan, tepatnya berada di Provinsi Lampung.
Wilayah ini, merupakan salah satu wilayah penyangga lumbung ketahan pangan, khususnya tanaman padi.
Dilansir dari laman web resmi Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Lampung Selatan menyebut, di tahun 2022, nilai produksi padi di Kecamatan ini tak main main yakni, mampu menyumbang diangka 56.673,74 Ton pertahun.

Tak ayal, potensi yang begitu besar, lahan pertanian masuk area Eks Rawa Sragi ini, memegang peran penting dalam isu strategis pembangunan, baik oleh pemerintah Pusat, Provinsi, hingga Daerah.
Sejurus dengan hal itu, Program Pemerintah Pusat saat ini tengah terkonsentrasi penguatan ekonomi masyarakat dari segala sektor, mulai hulu hingga hilir, ditengah menghadapi ketidak pastian ekonomi global.
Tak pelak, isu penguatan ketahan pangan menjadi salah satu opsi fokus program pemerintah, mulai dari Peternakan, perkebunan hingga pertanian, dalam upaya membangun kemandirian ekonomi masyarakat ditingkat bawah.
Untuk mewujudkan ekonomi masyarakat dalam kemandirian pangan tentunya tak mudah seperti membalikan telapak tangan. Segala lini mau tidak mau harus bersinergi untuk mewujudkan asta cita tersebut.
Beranjak dari hal itu, tak kalah penting untuk menjadi perhatian yakni, keluhan petani akan musibah banjir musiman masih saja terjadi seakan menjadi momok. Hingga, persoalan klasik lainnya yakni, infrastruktur jalan usaha tani yang masih jauh dari kata memadai.
Dua persoalan klasik itu, kerap menjadi dalang meruginya petani disana, akibat gagal panen. Hingga membengkaknya ongkos produksi unjal langsir hasil pertanian.

Seperti sepenggal kisah yang diutarakan oleh Pak Darum (50) salah seorang tokoh agama di Desa Trimomukti, Kecamatan Candipuro Lampung Selatan ini misalnya.
Dia (Darum_red) bilang, nilai produksi padi di desanya begitu besar. Hal tersebut dapat dibuktikan dengan banyaknya para pelaku usaha yang membangun bisnis penggilingan padi di desanya.
” Dari sisi ekonomi, perputaran ekonomi di desa ini luar biasa. Hanya saja, akses penunjang aktifitas petani seperti jalan pertanian ini masih butuh perhatian serius pemerintah,” ungkapnya kepada siarlamsel.com, Rabu siang, (30/4/2025).
Darum bilang, kondisi jalan usaha tani masih onderlagh belum ada peningkatan jalan. Ketika, hujan mengguyur medan jalan menjadi sulit dilalui oleh kendaraan motor. Sebab, jalan becek dan licin. Kondisi diperparah dengan jalan berlubang dalam.
” Ketika panen musim rendeng (musim penghujan_red), petani terpaksa mengeluarkan biaya mahal. Untuk ongkos langsir gabah pakai Ojek Manol (motor khusus) ke rumah. Ongkosnya hingga jutaan,” katanya.

Dia juga bilang, ketika akses transportasi petani ini bisa dibenahi, ia percaya bakal menjadi turbin penggerak kesejahteraan para petani. Mengingat Darum bilang, ” dengan adanya sumur sumur bor di sawah, petani di Desa Trimomukti sudah ada yang mampu melakukan tanam hingga 3 kali dalam setahun,” kata Darum.
Melihat pencapaian petani di indeks pertanaman mencapai 300 persen tersebut, tak ayal merupakan sebuah prestasi. Mengingat, betapa sulitnya mencapai indeks pertanaman hingga ke titik itu, di lahan pertanian yang notabene hanya mengandalkan hujan dan sumur pompa.
” Ketika jalan usaha tani ini dibenahi, saya percaya petani akan sejahtera. Dan harapan kita, mendorong PADesa juga. Kami sangat berharap kepada pemerintah jalan usaha tani di desa kami ini bisa diperhatikan,” kata Darum.

Sementara, salah seorang petani Desa Trimomukti Komang (53) pun menceritakan hal yang hampir sama.
Dia (Komang_) bilang, bukan hanya jalan menuju lahan pertanian saja yang perlu pembenahan. Melainkan dia bilang, jalan penghubung antar Kecamatan Way Panji – Trimomukti juga rusak parah.
Komang bilang, jalan penghubung kecamatan di desanya rusak parah. Lebar badan jalan dan kualitas infrastruktur juga perlu ditingkat.
Mengingat, kendaraan bertonase berat setiap harinya melintas. Aktifitas kendaraan logistik gudang Bulog dan kendaraan berat lainnya yang melintas ditenggarai, menjadi faktor peyumbang kerusakan jalan. Sampai hari ini, jalan rusak belum tersentuh perbaikan.
Ia dan rekan petani lainnya sangat prihatin. Sebab, jika tak segera diperbaiki, maka akan berimbas makin melebarnya kerusakan jalan.
” Kami berharap, pemerintah memperhatikan keluhan kami. Semakin lama jalan ini dibiarkan tidak ada perbaikan, berpotensi kerusakan jalan semakin meluas. Tentunya, akan berdampak tersendatnya transportasi warga, pengguna jalan, dan aktifitas para petani diwilayah ini,” pungkasnya. (Sfy)
Eksplorasi konten lain dari Media Siar Lampung Selatan
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Berita Lainnya
Paluma Gelar Sosialisasi Early Warning System Berbasis Komunitas, Bencana Tsunami Selat Sunda
Paluma Nusantara Gelar Workshof Sistem Komunikasi Peringatan Dini Bencana Tsunami Selat Sunda
PWI Lamsel Solid Sambut Kepengurusan Baru